Malang, 12 September 2025 – Dalam Malam Penutupan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) XIII di Universitas Negeri Malang, Jumat (12/9/2025), Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) menganugerahkan Penghargaan Satya Abdi Budaya 2025 kepada dua tokoh yang dinilai berjasa besar memajukan bahasa Indonesia di kancah global. Keduanya adalah Prof. Dr. Koh Young Hun dari Korea Selatan dan Prof. Fuad Abdul Hamid, M.A., Ph.D. dari Indonesia.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua APPBIPA, Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., berdasarkan SK APPBIPA Nomor 0109/APPBIPA-PH/2025 tanggal 1 September 2025. Menurut Ketua APPBIPA dalam sambutan penghargaan Satya Abdi Budaya, kedua tokoh tersebut adalah pilar yang menggelorakan semangat pemartabatan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dunia.
Prof. Koh Young Hun: Diplomasi Bahasa melalui Inovasi Digital
Prof. Dr. Koh Young Hun, Guru Besar Departemen Studi Melayu-Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan, diakui atas kontribusinya yang monumental dan berkelanjutan. Sebagai mantan Dekan College of Asian Languages and Cultures HUFS (2019–2021), Koh menjadi figur sentral pengembangan kajian Indonesia di Korea.
Karyanya seperti Percakapan Bahasa Indonesia, FLEX Bahasa Indonesia, dan Membaca Bahasa Indonesia menjadi rujukan utama pembelajaran BIPA di perguruan tinggi Korea. Tidak hanya itu, ia menerapkan pendekatan inovatif seperti flipped learning dan smart learning yang memperkaya pedagogi BIPA secara global.
Yang paling mengesankan, dengan dukungan pemerintah Korea senilai USD 3 juta, Koh memimpin pengembangan Affective AI Tutor (Chatbot) untuk pembelajaran bahasa Indonesia dan membangun korpus bahasa Indonesia sebanyak 200 juta data. Inovasi digital ini menjadi terobosan signifikan dalam adaptasi teknologi untuk pengajaran bahasa.
Kiprah diplomasinya juga luar biasa. Sebagai Ketua Pusat Budaya Indonesia di Seoul dan Direktur Korea-Indonesia Center (KIC), ia aktif menjalin kerja sama internasional. Pada 2014, ia menerima penghargaan Presidential Friends of Indonesia sebagai bukti pengakuan atas jasanya memperkuat hubungan Indonesia-Korea melalui bahasa.
Prof. Fuad Abdul Hamid: Perintis Organisasi dan Jejaring Global BIPA
Sementara itu, Prof. Fuad Abdul Hamid, M.A., Ph.D., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dinilai sebagai tokoh perintis yang meletakkan fondasi kelembagaan BIPA. Ia adalah ketua organisasi profesi pengajar BIPA (saat itu masih bernama APBIPA) dan terpilih sebagai Ketua APBIPA Pertama pada KIPBIPA III di IKIP Bandung tahun 1999.
Kontribusi ilmiahnya sangat banyak, berupa buku, modul, dan artikel yang menjadi rujukan pengajar BIPA di dalam dan luar negeri. Pemikirannya yang secara konsisten disampaikan dalam berbagai forum internasional, memperkaya khazanah pengajaran BIPA.
Pada era 1990-an, Fuad telah mengirimkan dosen-dosen Indonesia untuk mengajar BIPA di Australia, langkah visioner yang menjadi cikal bakal internasionalisasi bahasa Indonesia. Jejaring yang dibangunnya melalui APBIPA telah membuka jalan bagi kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi global.
Mengukuhkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Global
Kedua tokoh ini, meski dari wilayah dan latar budaya yang berbeda, memiliki visi yang sama: mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang setara di panggung dunia. Koh Young Hun melakukannya melalui inovasi digital dan diplomasi kebudayaan, sementara Fuad Abdul Hamid melalui pembangunan kelembagaan dan jejaring akademik.
Penghargaan Satya Abdi Budaya ini tidak hanya mengapresiasi kiprah individu, tetapi juga menegaskan komitmen kolektif untuk memartabatkan bahasa Indonesia. Sebagaimana disampaikan Rektor UM dalam pembukaan KIPBIPA, semangat egaliter bahasa Indonesia harus terus dijaga dan disebarluaskan. Dengan penghargaan ini, APPBIPA berharap dapat menginspirasi lebih banyak pegiat BIPA untuk berkontribusi dalam internasionalisasi bahasa Indonesia, sesuai dengan semangat yang telah diteladankan oleh kedua tokoh tersebut.